Nama: Yola Widya Utami
D.O.B: 26 Juni 1997
Alamat: Tanjung Karang Barat, Bandar Lampung, Lampung.
Agama: Islam
1. Masa Kelahiran
Di pertengahan tahun 1993 orang tua kandung penulis resmi menikah. Lalu di tahun 1995, orang tua penulis melahirkan anak pertama yaitu kakak kandung penulis sendiri bernama Yogi Ridwan Habibi. Berselang satu tahun tepatnya di tanggal 26 Juni 1997 lahirlah penulis yang diberi nama Yola Widya Utami.
Penulis tidak dilahirkan di rumah sakit melainkan di bidan dekat rumah. Karena orang tua penulis tidak menyangka bahwa hari itu penulis akan lahir. Setelah kelahiran keluarga penulis dipenuhi rasa suka cita.
Nama orang tua kandung penulis adalah Sugiyanto S.Pd dan Dian Agusriana. Pada saat itu orang tua penulis adalah seorang guru. Maka nama Yola Widya Utami diambil dari nama 3 orang murid orang tua penulis. Walaupun begitu nama tersebut juga memiliki arti dan harapan oleh orang tua penulis.
Yola diambil karena cocok untuk nama seorang wanita. Lalu Widya tersendiri mempunyai arti Ilmu kepandaian. Sedangkan Utami mempunyai arti utama atau nomor satu. Sehingga dalam kalimat bisa dijelaskan bahwa orang tua penulis menginginkan anak perempuannya tumbuh menjadi seseorang yang sangat pandai.
2. Masa Balita
Di masa balita ini adalah tahap pertumbuhan penulis dan pembelajaran yang paling awal penulis. Seperti belajar berbicara dan berjalan.
Saat belajar berjalan, penulis yang tidak bisa diam sering kali merangkak kesana kemari. Tidak jarang penulis terjatuh saat merangkak.
Saat balita penulis jarang bermain diluar rumah, karena itu penulis hanya bermain dengan anak dari pembantu penulis. Apalagi letak rumah penulis yang agak terpencil.
Penulis juga sering bermain dengan murid-murid orang tuanya. Pada saat itu orang tua penulis mengajar les dirumah mereka. Karena waktu itu orang tua penulis baru bekerja sebagai guru.
Di rumah penulis selalu diasuh oleh sang tante. Waktu dulu tante penulis belum menikah dan masih kuliah sehingga ia meluangkan waktunya untuk menjaga dan merawat penulis.
3. Masa Taman Kanak-Kanak (TK)
Tidak seperti murid-murid yang lain, penulis selalu sendirian. Biasanya di awal tahun ajaran baru, para orang tua murid akan mengantarkan dan menjaga anaknya hingga pulang sekolah. Berbeda dengan penulis yang bisa dibilang tidak dijaga sama sekali. Selain karena mandiri, sekolah penulis sengaja dipilih ditempat orang tuanya bekerja.
Sang ayah bekerja di SD, sedangkan ibunya bekerja di SMP, lalu kakak laki-lakinya bersekolah di SD. Hali ini disengaja agar lebih mudah bertemu.
Di umur 5 tahun, ibu penulis melahirkan adik perempuan untuk penulis. Waktu itu sedang bulan puasa dan ibu penulis melahirkan saat sahur. Akhirnya penulis dan kakak penulis ditinggal sementara oleh ayah penulis. Adik dari penulis diberi nama Fitri Khairunisa Cahyacita
Penulis adalah anak yang ceria dan aktif saat TK. Bahkan terkadang penulis masih disekolahannya ketika temannya sudah pada pulang.
4. Masa Sekolah Dasar (SD)
Setelah mengenyam bangku pendidikan TK selama 2 tahun, akhirnya penulis masuk ke sekolah dasar dan di terima di kelas 1D. Dikelas ini penulis bertemu teman baru seperti, Dina, Dita, Zenny, Dll.
Waktu itu di sekolah penulis pembagian kelas berdasarkan ranking dimulai dari kelas 4. Jadi dari kelas 1, 2, dan 3, penulis tetap berteman dengan teman sekelas yang sama. Dan juga menempati kelas yang sama. Setelah dari 1D penulis naik ke kelas 2D, dan 3D.
Menurut cerita dari ibu penulis, saat masih kelas 2 penulis sudah bisa menambahkan angka negative. Hal ini tidak biasa terjadi pada anak seumurannya.
Penulis tidak pernah di tunggu oleh orang tuanya didepan kelasnya saat tahun ajaran baru. Hal ini sangat berbeda dengan anak-anak lain. Bahkan penulis pernah mengeluh pada ibunya; mengapa ia tidak pernah ditunggui seperti teman teman yang lainnya.
5. Masa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Saat masuk di SMP ternyata penulis termasuk ke kelas akselerasi. Kelas ini dipilih berdasarkan anak anak dengan IQ tinggi. Karena cepatnya proses pembelajaran. Anak ber iq tinggi biasanya lebbih mudah mengerti walaupun cepat.
Dikelas ini penulis bertemu dengan teman satu SDnya yaitu; adam, dinda, annisa, aldo, febri, erza, icha. Selain itu penulis juga bertemu teman baru yaitu; adam, adinda, aisyah, aldo, alif, annisa, aries, erza, febri, gata, ica, zulfikar, fariski, gwendy, ridwan, rinaldo, salman, salina, aka.
Di kelas ini hanya ada 7 perempuan termasuk penulis. Hal ini mendukung kelas penulis menjadi kelas yang kompak.
6. Masa Sekolah Menengah Atas (SMA)
Saat menunggu pengumuman penulis sempat tidak tidur untuk menunggu. Hingga tengah malam, penulis diberi tahu bahwa penulis lulus.
Saat mos penulis termasuk ke kelompok seruit bersama shalina. Saat mos, tak jauh berbeda saat mos SMP. Di hari terakhir mos kami disuruh untuk berjalan kaki dar SMA 2 ke Lembah hijau. Untunglah itu tidak melelahkan karena kami berjalan beramai-ramai.
Saat mos juga ada demo ekskul atau pengenalan ekskul pada murid baru. Penulis lebih tertarik dan memilih ekskul majalah deppel. Ada juga beberapa teman penulis yang memilih ekskul deppel.
Di sekolah ini penulis masuk ke kelas X7. Sama dengan aisyah, tetapi ada beberapa teman yang dikelas lain pindah kekelas ini. Seperti dinda yang awalnya dari kelas X6 ataupun febri dan annisa yang awalnya dari kelas X6.
Dikelas ini penulis bertemu banyak teman baru. Seperti gita, indah, zakia, elina, dll. Dikelas ini juga penulis bertemu dengan banyak guru baru. Penulis sangat bersukur karena bisa masuk di kelas ini.








0 komentar:
Posting Komentar